Porosdemokrasi – Perkembangan media dari masa ke masa menunjukkan kemajuan yang sangat pesat, mulai dari media cetak, elektronik, hingga era internet dan digital saat ini. Namun di balik kemajuan tersebut, muncul persoalan besar: semakin sulit menemukan media yang benar-benar independen dan menyuarakan kepentingan rakyat.
Hal ini disampaikan oleh pengamat media sosial dan politik Indonesia, Rizki Akbar, kepada wartawan, Sabtu (4/4).
“Dampak nyata dari peran media terhadap berbagai perubahan sudah sering kita lihat, baik di Indonesia maupun di luar negeri,” ujar Rizki.
Ia mencontohkan perubahan politik dan keamanan di Timur Tengah saat gelombang demonstrasi besar di dunia AS. Saat itu, Facebook digunakan untuk menyusun jadwal unjuk rasa, Twitter untuk koordinasi lapangan, dan YouTube untuk menyebarkan informasi ke seluruh dunia.
“Itu terbukti sangat efektif. Biayanya murah, cepat, dan siapa saja bisa mengaksesnya.
Awalnya, media lahir hanya sebagai penyedia informasi, komunikasi, dan hiburan. Namun dalam perkembangannya, media menjadi instrumen yang sangat kuat, tidak hanya dalam dunia sosial dan ekonomi, tetapi juga politik dan keamanan. Media bahkan menjadi alat untuk membangun opini publik dan memengaruhi legitimasi kekuasaan.
“Seakan-akan siapa yang bisa menguasai media, maka bisa menguasai apa saja, termasuk politik,” ujarnya.
Sementara itu, akademisi dan pengamat media, Suwarno, menilai media internet merupakan teknologi kunci bagi kebebasan informasi. Menurutnya, siapa yang tidak memanfaatkan internet akan tertinggal.
Namun di sisi lain, kondisi media saat ini dinilai memprihatinkan. Banyak media yang tidak lagi independen karena terikat kepentingan pemilik modal, iklan, kerja sama politik, hingga bantuan luar negeri. Persaingan industri media yang semakin ketat membuat banyak media independen akhirnya tutup karena kekurangan pendanaan.
“Faktanya hari ini sangat sulit mencari media yang benar-benar independen. Banyak media memiliki afiliasi kepentingan, dan yang paling dominan adalah kepentingan kekuasaan,” tegasnya.
Akibatnya, media yang benar-benar menyuarakan kepentingan rakyat menjadi semakin sedikit. Padahal, kekuatan media sangat menentukan kekuatan sebuah negara.
“Media yang kuat adalah media yang bisa menyampaikan fakta dengan cepat dan tidak terpenjara oleh kepentingan kekuasaan maupun kepentingan tertentu,” tutupnya.



