Ketika Kebebasan Pers Diteror: Demokrasi Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Poros Demokrasi – Berbagai jurnalis yang memilih tidak disebutkan Namanya, menggelar diskusi pada 13 Januari 2026 terkait persoalan kebebasan pers yang belakangan terasa seperti “diperkosa” oleh segelintir pihak yang merasa terganggu oleh pemberitaan kritis. Kebebasan pers sejatinya harus dijaga bersama, karena sebuah negara akan maju ketika masyarakat dapat mengakses informasi secara utuh dan bebas dari tekanan.

Sebagai sesama anak bangsa, kita memiliki mekanisme yang baik dan benar untuk menyelesaikan persoalan terkait karya jurnalistik, mulai dari hak jawab hingga hak koreksi. Karena itu, tindakan intimidasi atau teror jelas merupakan langkah yang keliru dan tidak dapat dibenarkan. Obat yang menyehatkan memang pahit; demikian pula kritik. Yang manis hanya sirup, namun itu hanya untuk anak-anak. Jangan sampai kebebasan pers yang terpasung ini berubah menjadi bom waktu. Para pemimpin bangsa seharusnya membuka akses informasi, bersikap dewasa, dan tidak alergi terhadap kritik.

Rakyat yang bersuara bukanlah musuh negara. Justru itu merupakan bentuk kecintaan kepada republik yang kita cintai bersama.

Frasa “ketika demokrasi dibungkam lewat teror dan kiriman paket” merujuk pada situasi aktual di Indonesia, di mana aktivis, jurnalis, dan kreator konten yang kritis menerima berbagai bentuk intimidasi, termasuk kiriman paket berisi benda-benda mengancam. Beberapa kasus yang mencuat ke publik antara lain pengiriman bangkai ayam dan pelemparan telur busuk ke rumah beberapa aktivis serta kreator konten, seperti DJ Donny, Iqbal Damanik. Selain itu, sejumlah media juga menerima paket COD bernilai puluhan juta rupiah.

Jika negara benar-benar berpihak kepada rakyat, pola ancaman seperti ini seharusnya bisa segera diusut tuntas. Tindakan tersebut bukan hanya merusak rasa aman warga negara, tetapi juga dapat mencoreng nama baik Presiden Prabowo apabila dibiarkan tanpa penindakan.

Model pembungkaman terhadap media ini menjadi bukti bahwa kondisi negara sedang tidak baik-baik saja. Ada persoalan serius yang perlu ditelisik lebih jauh, termasuk apa yang sebenarnya berada di balik upaya penghilangan paksa terhadap karya jurnalistik. Kebebasan pers adalah pilar demokrasi. Ketika ia diganggu, maka demokrasi pun sedang berada dalam ancaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *