Jakarta – Peneliti Senior Forum Masyarakat Pemerhati Parlemen (Formappi), Lucius Karus, menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang berkelakar dalam pidatonya pada peringatan Harlah ke-28 PKB di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu (23/7). Dalam pidato tersebut, Prabowo menyematkan label “pemimpin kancil” kepada tiga tokoh elite, yakni Muhaimin Iskandar, Sufmi Dasco Ahmad, dan Bahlil Lahadalia.
Menurut Lucius, penyebutan “pemimpin kancil” menarik untuk dicermati, bukan hanya karena mengundang tawa, tetapi juga karena mengandung pesan simbolik.
“Label pemimpin kancil yang disematkan Prabowo kepada tiga figur elite tersebut tentu menarik. Selain karena lucu, juga mungkin karena pesan yang ingin disampaikan. Kancil umumnya menjadi simbol kelincahan, kecerdasan, sekaligus kelicikan. Modal kancil untuk bertahan bukan pada perawakannya, melainkan pada kecerdasan otaknya, tetapi juga kelicikannya,” ujar Lucius kepada wartawan, Jumat (24/7/2026).
Lucius menilai sisi kelicikan itulah yang patut diwaspadai karena cenderung mengabaikan dimensi etika.
“Yang penting cuan, untung, dan berkuasa. Tidak terlalu penting bagaimana cara atau proses yang dijalani. Itulah tipikal pemimpin kancil. Mereka memang cerdas, tetapi kecerdasannya justru digunakan secara licik untuk kepentingan dirinya sendiri,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa karakter semacam itu berbahaya apabila berada di lingkaran elite partai maupun pemerintahan.
“Kelincahan tentu bukan masalah. Tetapi jika kelincahan itu digunakan untuk kepentingan pribadi, di situlah persoalannya. Jika tipikal kancil menjadi ketua partai, maka partai berpotensi dijadikan alat untuk mempertahankan kepentingan dirinya sendiri, bukan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat,” ujarnya.
Lucius juga menyinggung lembaga legislatif. Menurutnya, apabila sosok dengan karakter seperti itu memimpin DPR, lembaga perwakilan rakyat berisiko bergeser menjadi alat kepentingan pribadi atau kelompok.
“Kalau melihat DPR sekarang, tipikal pemimpin kancil ini memang terasa pas. Lincah bergerak, seolah-olah cerdas, tetapi sekaligus licik. DPR yang merupakan lembaga perwakilan rakyat bisa saja berubah menjadi alat untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya,” tuturnya.
Ia menduga Presiden Prabowo memiliki pengamatan tersendiri terhadap figur-figur yang disebutnya sebagai “pemimpin kancil”.
“Mungkin Prabowo memahami dan mengamati pergerakan sosok-sosok tersebut. Dari pengamatan dan pemahaman itu kemudian muncul istilah ‘pemimpin kancil’,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Lucius menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang cerdas, lincah, sekaligus berintegritas.
“Indonesia membutuhkan pemimpin yang cerdas, lincah, tetapi tidak licik. Pemimpin yang cerdas harus bijaksana karena menyadari bahwa kekuasaan diberikan oleh rakyat untuk membawa rakyat ke jalan yang benar.
.Sementara pemimpin kancil tidak peduli pada jalan yang benar. Bagi mereka, yang benar adalah jalan yang paling menguntungkan secara materi. Dalam situasi seperti itu, rakyat bisa saja hanya menjadi alat di tangan pemimpin kancil,” pungkasnya.



