Jusuf Hamka: Pernah Diintervensi Orang yang Mengaku Teman Presiden

Porosdemokrasi.com Jakarta — Pengusaha nasional Jusuf Hamka mengungkap sejumlah pengalaman yang dinilainya mencerminkan dinamika kekuasaan, kepercayaan, dan nilai kemanusiaan di Indonesia. Dalam Podcast Madilog Forum Keadilan bersama jurnalis senior Darmawan Sepriyossa, ia mengaku pernah menghadapi sebuah perkara yang diintervensi oleh seseorang yang mengaku sebagai teman Presiden Prabowo Subianto.

Selain itu, Jusuf Hamka juga menceritakan pertemuannya dengan Dadan Hindayana di Arafah sebelum yang bersangkutan kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Ia turut mengisahkan pengalamannya membantu anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PAN, Uya Kuya, beserta keluarganya saat rumah mereka dijarah pada Agustus 2025. Menurutnya, seluruh tindakan tersebut dilandasi semangat kemanusiaan, bukan kepentingan politik ataupun identitas.

Dalam perbincangan tersebut, Jusuf Hamka menegaskan bahwa persatuan, toleransi, dan rasa saling percaya merupakan fondasi utama yang harus dijaga agar Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan, dikutip pada 16 Juli 2026 dari Podcast Madilog Forum Keadilan 13 Jul 2026.

Sebagai warga keturunan Tionghoa yang telah puluhan tahun aktif dalam berbagai kegiatan sosial, Jusuf Hamka mengatakan berbagai pengalaman hidupnya, mulai dari kerusuhan Mei 1998 hingga dinamika sosial beberapa tahun terakhir, justru memperkuat keyakinannya bahwa masyarakat Indonesia pada dasarnya memiliki semangat toleransi dan saling menghormati.

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika menghadiri pemakaman almarhum Afan Kurniawan dan mendapat sambutan hangat dari ribuan pengemudi ojek online yang hadir. Peristiwa itu, menurutnya, menjadi bukti bahwa persaudaraan mampu melampaui perbedaan suku, agama, maupun latar belakang.

“Yang terpenting bukan apakah saya seorang Tionghoa atau seorang Muslim, tetapi bagaimana kita saling menganggap sebagai keluarga. Ketika kita mencintai sesama dengan tulus, maka mereka pun akan membalas dengan ketulusan,” ujar Jusuf Hamka.

Ia menegaskan bahwa membantu siapa pun yang membutuhkan merupakan panggilan kemanusiaan. Karena itu, ketika Uya Kuya dan keluarganya menghadapi situasi sulit, dirinya memilih hadir memberikan bantuan tanpa mempertimbangkan afiliasi politik maupun perbedaan identitas.

Jusuf Hamka juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga persatuan nasional, tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memecah belah masyarakat, serta terus menghidupkan semangat gotong royong sebagai jati diri bangsa.

Di sisi lain, ia mengajak masyarakat memberikan ruang bagi pemerintah menjalankan program pembangunan dan pemberantasan korupsi. Menurutnya, kritik tetap diperlukan sebagai bagian dari demokrasi, namun sebaiknya disertai solusi yang membangun.

Dalam kesempatan tersebut, Jusuf Hamka turut menceritakan perjalanan spiritualnya setelah memeluk Islam di bawah bimbingan almarhum Buya Hamka. Ia menyebut kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai Amirul Haji merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab demi melayani jemaah Indonesia.

Menutup perbincangan, Jusuf Hamka menyampaikan optimisme terhadap masa depan Indonesia. Ia meyakini berbagai luka akibat konflik sosial maupun sentimen rasial dapat dipulihkan apabila seluruh elemen bangsa terus mengedepankan nilai kemanusiaan, keadilan, dan persaudaraan.

“Indonesia adalah bangsa yang besar. Yang harus kita rawat bukan perbedaannya, melainkan persaudaraannya. Jika kita saling mencintai sebagai sesama anak bangsa, Indonesia akan menjadi semakin kuat,” tutup Jusuf Hamka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *