
Porosdemokrasi – Akun Instagram presiden_netizen_official1 menjadi sorotan setelah mengunggah status yang membandingkan konflik perang di negara lain dengan kekerasan terhadap sipil di dalam negeri. Dalam unggahan yang dikutip pada 15 Maret, akun tersebut menulis:
“Negara lain udah perang rudal, drone, eh di negara Selandia Baru masih nyerang sipil pake air keras.”
Unggahan itu langsung memicu gelombang komentar dari warganet. Banyak yang menilai istilah “Selandia Baru” dalam konteks tersebut merupakan sindiran terhadap Indonesia, yang sering dijuluki netizen sebagai “Konoha” atau nama samaran lain untuk menghindari penyebutan langsung.
Netizen Terbelah, Sejumlah pengguna menyampaikan kritik keras terhadap pemerintah. Akun mauzanaf menyinggung warisan mental kolonial dalam birokrasi:
“Belanda dan Jepang sudah puluhan tahun pergi, tapi sifat penjajahnya masih tertinggal di hati para petinggi.”
Komentar lain juga menyoroti peran pejabat negara, khususnya terkait isu HAM.
Pengguna ady.her menulis:
“Dan lucunya lagi di negara Selandia Baru menteri HAM-nya jarang nongol.”
Sementara itu, akun andikastwan_ menyindir respons pejabat yang dianggap selektif:
“Menteri HAM-nya nongol pas ada kasus MBG doang.”
Kritik Terhadap Militer dan Politik, Beberapa komentar juga mengarah pada kekhawatiran soal keterlibatan militer dalam urusan sipil.
Akun unreal.beautyy menulis singkat:
“Tentara masuk politik sangat berbahaya bagi publik.”
Komentar tersebut mendapat dukungan dari sejumlah pengguna lain yang menilai demokrasi harus tetap menjaga batas antara militer dan pemerintahan sipil.
Tuduhan Fitnah dan Pembelaan, Tidak semua komentar bernada kritik. Sebagian pengguna justru menilai unggahan tersebut sebagai bentuk provokasi atau fitnah.
Akun muchlisachmad menanggapi:
“Fitnah Selandia Baru, takut lo sama Presiden Prabowo?”
Ada juga yang mempertanyakan penggunaan istilah negara lain sebagai sindiran.
Pengguna chuilliqengadiman menulis:
“Jangan fitnah Selandia Baru dong.” Fenomena Sindiran Politik di Media Sosial, Penggunaan nama negara fiktif atau julukan seperti “Konoha” dan “Selandia Baru” sudah lama menjadi pola komunikasi politik di media sosial Indonesia. Istilah tersebut dipakai netizen untuk menyindir kondisi politik domestik tanpa menyebut langsung nama negara atau pejabat tertentu.
Unggahan dari akun presiden_netizen_official1 kali ini menunjukkan bagaimana satire politik di media sosial masih memicu perdebatan tajam di kalangan warganet, terutama ketika menyangkut isu kekerasan terhadap sipil, kinerja pemerintah, dan kebebasan berekspresi.






