Porosdemokrasi – Komposisi anak-anak muda di sekitar Prabowo Subianto menuai perhatian publik. Sejumlah masyarakat, khususnya di media sosial dan grup percakapan, mempertanyakan minimnya figur senior dalam lingkar pengambil keputusan presiden.
Mereka menilai, dalam mengelola negara sebesar Indonesia, pengalaman dan kematangan menjadi faktor krusial. Tokoh-tokoh senior dianggap memiliki jam terbang panjang, ketajaman membaca situasi, serta pertimbangan yang lebih matang dalam mengambil keputusan strategis.
Sebaliknya, dominasi anak muda dinilai sebagian pihak berpotensi melahirkan keputusan yang lebih situasional dan kurang stabil. Kritik yang berkembang menyebut, presiden tetap perlu melibatkan figur-figur berpengalaman sebagai penyeimbang dalam proses perumusan kebijakan.
“Pembisik presiden seharusnya orang-orang dengan rekam jejak panjang dan kebijaksanaan yang teruji. Negara ini terlalu besar untuk dijadikan ruang eksperimen,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Selasa, 4 Maret 2026.
Meski demikian, sejumlah kalangan juga mengakui pentingnya regenerasi dan energi baru dalam pemerintahan. Tantangannya adalah menciptakan keseimbangan antara semangat perubahan dan kebijaksanaan pengalaman.
Publik berharap pengelolaan negara tidak tersandera kepentingan sektoral maupun kepentingan pribadi. Fokus utama, menurut mereka, tetap pada kesejahteraan rakyat dan stabilitas nasional.
Masyarakat menegaskan bahwa kritik bukan ancaman, melainkan bentuk kepedulian terhadap arah bangsa. Mereka juga mengingatkan agar tidak ada kriminalisasi terhadap suara-suara yang menyampaikan aspirasi secara konstruktif.
Sorotan terhadap komposisi lingkar dalam presiden ini menjadi pengingat bahwa transparansi, akuntabilitas, dan keseimbangan dalam pengambilan keputusan adalah kebutuhan, bukan pilihan. Jika masukan publik diabaikan, kepercayaan bisa terkikis. Dan dalam politik, kepercayaan yang retak sering kali lebih berbahaya daripada oposisi terbuka.
Negara ini tidak kekurangan orang pintar. Yang dibutuhkan adalah kombinasi yang tepat antara keberanian muda dan kebijaksanaan pengalaman. Kalau dua-duanya bisa duduk satu meja tanpa saling merasa paling benar, itu baru kemewahan politik yang sesungguhnya.



