Ayah di Cengkareng Laporkan Dugaan Penganiayaan terhadap Anak Usai Konflik Kebisingan Drum


porosdemokrasi, Jakarta — Konflik antarwarga terkait kebisingan suara drum di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, berujung pada laporan dugaan penganiayaan ke pihak kepolisian. Seorang pria berinisial DBS (50-an) melaporkan tetangganya setelah terjadi insiden fisik yang melibatkan anaknya.
DBS menjelaskan, persoalan bermula dari keberatan tetangga bernama Darwin terhadap aktivitas latihan drum anaknya di rumah yang telah dihuni keluarganya sejak 1976. Pada Januari 2025, DBS membangun satu ruangan tambahan yang difungsikan sebagai ruang latihan musik.

Menurut DBS, sebelum digunakan secara rutin, ruangan tersebut telah dimodifikasi dengan berbagai material peredam suara. Ia mengaku membongkar sebagian tembok lama dan menggantinya dengan conblock, menambahkan lapisan gypsum serta bahan peredam lainnya, termasuk menutup ventilasi yang mengarah ke rumah tetangga.

“Sudah kami bongkar tembok lama, pakai conblock dan tambahan peredam. Pintu juga diganti lebih berat supaya suara tidak tembus,” ujar DBS saat ditemui.
Ia menegaskan, anaknya hanya diperbolehkan bermain drum pada siang hingga sore hari dan tidak pernah melewati pukul 17.00 WIB.
Komplain dan Dugaan Caci Maki
DBS menyebut komplain pertama terjadi pada November 2025 sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu, Darwin dan istrinya, Angel, disebut mendatangi rumahnya dan menyampaikan keberatan.

DBS mengklaim dalam peristiwa tersebut anaknya sempat menerima kata-kata kasar. Sejak kejadian itu, aktivitas bermain drum dihentikan sementara. Ia mengaku telah mengusulkan uji dengar bersama untuk mengukur tingkat kebisingan.

“Saya minta waktu untuk tes suara, supaya sama-sama tahu seberapa keras sebenarnya. Saya minta jangan mendadak, minimal dua hari sebelumnya,” katanya.
Namun, menurut DBS, rencana tersebut belum sempat terlaksana.
Insiden Fisik

Peristiwa yang kemudian dilaporkan ke polisi terjadi saat anak DBS kembali bermain drum setelah sebelumnya meminta izin kepada penjaga rumah, Solihin alias Acong. Tak lama kemudian, anaknya dipanggil karena kembali ada komplain.

DBS mengaku menerima telepon yang menginformasikan bahwa anaknya didatangi Darwin di depan rumah. Ia kemudian menyusul dan mengklaim melihat telah terjadi kontak fisik.

“Saya lihat anak saya sudah didorong dan ditarik bajunya. Sebagai orang tua tentu refleks melindungi,” ujarnya.

DBS mengakui sempat terjadi perkelahian singkat. Ia menyebut Darwin mengalami luka saat bergumul dan diduga terkena material bangunan di sekitar lokasi. Sementara itu, ia membantah isu yang beredar mengenai dugaan penabrakan terhadap istri Darwin, dengan menyatakan tidak ada cedera yang dialami.

Upaya Mediasi dan Laporan Polisi
Ketua RW setempat disebut telah menawarkan mediasi pada hari yang sama, namun belum tercapai kesepakatan. Keesokan harinya, DBS mengetahui bahwa pihak Darwin telah lebih dahulu melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

DBS kemudian membuat laporan balik terkait dugaan penganiayaan terhadap anaknya serta dugaan makian dan provokasi yang terjadi sebelumnya. Ia menyatakan bersedia menempuh jalur damai apabila dimediasi secara resmi oleh aparat penegak hukum.
“Saya terbuka untuk damai. Namanya orang emosi pasti ada salah, tapi saya berharap ini bisa diselesaikan baik-baik sebagai sesama tetangga,” katanya.

Polisi Dalami Laporan Kedua Pihak
DBS menyebut terdapat sejumlah saksi yang mengetahui kejadian tersebut, antara lain Solihin (Acong), Nasip, Hariman, Jum, serta warga lain di sekitar lokasi. Ia juga menyatakan bahwa kontak fisik pertama telah terjadi pada November 2025 dengan Darwin dan Angel berada di tempat kejadian.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat keterangan resmi dari pihak Darwin terkait versi peristiwa tersebut. Aparat kepolisian disebut masih mendalami laporan dari kedua belah pihak guna memastikan kronologi dan unsur pidana yang mungkin terjadi.(Sulthan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *