Poros Demokrasi – Direktur Political and Public Policy Studies, Jerry Massie, menilai wacana pertarungan politik antara Gibran Rakabuming Raka dan Prabowo Subianto pada Pilpres 2029 sebagai skenario timpang sejak awal. Menurutnya, Gibran berpotensi menjadi capres gurem PSI jika benar-benar harus berhadapan langsung dengan Prabowo.
Jerry menyebut ada dua faktor krusial yang dapat meruntuhkan posisi politik Gibran, yakni isu akun fufufafa dan dugaan ijazah palsu. Kedua isu tersebut, kata dia, bukan sekadar gosip politik, melainkan dapat berkembang menjadi persoalan hukum dan legitimasi publik.
“Jika tidak diselesaikan secara transparan, bukan tidak mungkin Gibran dianulir dan digugurkan sebagai capres maupun cawapres pada 2029,” ujar Jerry dalam keterangannya di Jakarta, Senin (26/1/2026).
Dari sisi dukungan politik, Jerry menilai basis kekuatan Gibran sangat terbatas. Secara realistis, Gibran hanya bertumpu pada PSI, partai yang pada Pileg terakhir hanya meraih sekitar 3 persen suara, meski telah menggunakan branding “PSI Partai Jokowi”.
“Fakta ini menunjukkan bahwa efek elektoral Jokowi terhadap PSI pun sangat terbatas,” katanya.
Sebaliknya, Prabowo Subianto dinilai memiliki modal politik jauh lebih besar. Jika Prabowo bertandem dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, atau Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, maka koalisi yang terbentuk akan sangat dominan dan sulit dilawan.
Selain figur politisi, Jerry juga menilai dua tokoh profesional berpotensi menjadi pendamping Prabowo, yakni Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Kombinasi politisi senior dan teknokrat berpengalaman ini dinilai mampu memperkuat citra stabilitas, kompetensi, dan kesinambungan pemerintahan.
“Dalam konteks ini, Gibran akan sangat kesulitan menandingi Prabowo,” tegasnya.
Wacana duet Gibran–Dedi Mulyadi memang dinilai menarik secara elektoral di Jawa Barat. Namun, Jerry menegaskan, kombinasi ini tetap belum cukup kuat untuk menandingi mesin politik nasional yang dimiliki Prabowo.
Di sisi lain, PDIP juga berpeluang mengusung Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang dinilai akan semakin memecah basis suara Gibran.
Masuknya Ahmad Ali ke PSI setelah keluar dari NasDem juga dinilai sebagai manuver political psywar terhadap Prabowo. Namun, langkah ini disebut lebih menyerupai strategi penggertakan tanpa kekuatan riil, mengingat PSI masih memiliki elektabilitas rendah dan infrastruktur politik yang lemah.
“Prioritas realistis PSI seharusnya bukan mengusung capres, melainkan menyelamatkan eksistensi partai dengan lolos ambang batas parlemen 4 persen. Tanpa kursi DPR, seluruh ambisi politik PSI akan berhenti di pinggir sejarah,” katanya.
Jerry menyimpulkan, duel Gibran vs Prabowo saat ini lebih tampak sebagai wacana sensasional ketimbang skenario politik rasional.
“PSI boleh menabuh genderang perang, tetapi tanpa pasukan, strategi, dan amunisi, genderang itu hanya akan berbunyi nyaring tanpa daya tempur,” pungkasnya.


