Poros Demokrasi Jakarta — Pengamat pertahanan sekaligus alumni Universitas Pertahanan (UNHAN) RI, Ario Seno, menilai Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya TNI Angkatan Laut, perlu lebih mengutamakan penguatan fungsi intelijen dalam pembangunan postur kekuatan.
Pandangan tersebut ia sampaikan menanggapi pelaksanaan Diskusi Panel bertajuk “Proyeksi Kekuatan TNI Angkatan Laut: Reorganisasi TNI dalam Penyusunan Armada yang Sesuai dengan SSAT” yang digelar Pusat Pengkajian Maritim (Pusjianmar) Seskoal pada Senin (15/12/2025).
Ario menyoroti tidak dihadirkannya pakar intelijen TNI AL, Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto, dalam diskusi tersebut. Padahal, menurutnya, pembahasan mengenai Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) tidak dapat dilepaskan dari peran intelijen sebagai fondasi utama pengambilan keputusan strategis. Meski tidak hadir secara langsung, Ario mengaku tetap mengikuti jalannya diskusi melalui media sosial.
“Intelijen itu adalah fungsi utama dari TNI. Kalau berniat membangun postur TNI, dalam hal ini SSAT, tapi tidak memperkuat fungsi intelijen, itu sama saja membodohi diri sendiri.
Mau dilihat dari perspektif ancaman maupun kemampuan, intelijen tetap harus berada di garis terdepan,” ujar Ario.
Ia kemudian menyinggung rekam jejak Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI pada periode 2011–2013.
Menurut Ario, posisi tersebut merupakan puncak struktur intelijen TNI lintas matra, bukan hanya di lingkungan TNI AL.
“Beliau itu bukan sekadar PaBan atau Asintel, tapi Kabais TNI. Artinya kapasitas beliau sebagai praktisi intelijen diakui oleh tiga matra.
Saya sendiri sering berdiskusi dengan beliau. Pengetahuan intelijennya sangat mendalam dan komprehensif,” kata Ario.
Lebih lanjut, Ario menyebut Soleman B. Ponto sebagai salah satu praktisi intelijen terbaik dari matra laut, yang menurutnya setara dengan Prof. Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono dari matra darat dan Marsdya TNI (Purn) Kisenda Wiranata Kusumah dari matra udara.
Ario juga menekankan bahwa fungsi intelijen tidak hanya krusial dalam konteks militer, tetapi juga memiliki cakupan yang sangat luas, termasuk mitigasi bencana.
Ia mencontohkan sejumlah bencana di wilayah Sumatera yang menurutnya dapat diantisipasi lebih dini apabila fungsi intelijen dijalankan secara optimal.
“Kalau fungsi intelijen lebih diutamakan, kita bisa mengetahui potensi bencana sejak dini, termasuk keterlibatan pihak-pihak dan aktivitas yang berpotensi menimbulkan dampak di kemudian hari. Tapi yang sering terjadi justru kita baru ribut setelah bencana terjadi,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Ario menyarankan agar penguatan fungsi intelijen dijadikan prioritas utama dalam pembangunan kekuatan nasional, khususnya di sektor pertahanan dan keamanan.
“Sebelum bicara ingin kapal A, kapal B, atau pesawat C dan D, perkuat dulu fungsi intelijen. Memang intelijen saja tidak memenangkan pertempuran, tetapi membangun kekuatan tanpa intelijen, saya tegaskan, itu hanya membodohi diri sendiri,” pungkasnya.



