Ketika Langit Disutradarai: “Dalam Sujudku” dan Industri Air Mata yang Terencana


porosdemokrasi.com, Jakarta – Ada sesuatu yang ganjil ketika iman mulai terasa seperti skenario. Film Dalam Sujudku hadir dengan niat suci—atau setidaknya, demikian yang ingin ia yakinkan—namun di balik kesyahduan yang dirangkai rapi, terselip kegelisahan: sejak kapan keikhlasan butuh blocking kamera

Di tangan Rico Michael, kisah rumah tangga yang retak disulap menjadi altar panjang tempat manusia bersujud, menangis, lalu—secara ajaib—menemukan jawaban.

Diproduseri Donnie Syech, film ini tampak percaya bahwa penderitaan adalah pintu masuk paling mudah menuju simpati, dan bahwa simpati adalah jalan pintas menuju makna.

Padahal, hidup tak sesederhana itu.
Marcell Darwin tampil sebagai wajah kelelahan yang nyaris konstan—mata sembab, suara bergetar, dan doa-doa yang terdengar seperti monolog panjang. Bersama Denis Adhiswara yang kali ini menjelma ustaz penuh hikmah, mereka seperti dua sisi koin yang sama: satu menderita, satu menjelaskan arti penderitaan. Dan penonton? Dibiarkan duduk manis, menerima.

Masalahnya bukan pada pesan yang dibawa—tentang sabar, ikhlas, dan doa—melainkan pada cara ia dipaksakan. Film ini tidak memberi ruang bagi keraguan. Ia tidak mengizinkan penonton untuk bertanya. Semua sudah dijawab, bahkan sebelum pertanyaan sempat tumbuh. Sebuah pendekatan yang lebih mirip ceramah satu arah ketimbang karya sinema yang hidup.

Deretan pemain seperti Vinessa Inez dan Naura Hakim berusaha menyuntikkan lapisan emosi pada karakter mereka. Namun, karakter-karakter itu sendiri terasa seperti simbol, bukan manusia. Yang satu terlalu sabar untuk dipercaya, yang lain terlalu bersalah untuk dimengerti. Kompleksitas dipangkas demi pesan yang ingin cepat sampai.

Dan tentu saja, tak lengkap rasanya tanpa musik yang mengarahkan perasaan. Lagu Titipan Ilahi yang dibawakan Evelyn Wijaya hadir seperti penunjuk arah emosi: di sini Anda harus sedih, di sini Anda harus haru. Sebuah ironi, ketika sesuatu yang seharusnya lahir dari hati justru terasa seperti instruksi.

Nah, menariknya, di tengah semua keseriusan yang nyaris sakral itu, kehadiran Chika Waode sebagai karakter tukang gosip justru menjadi semacam sabotase kecil yang menyegarkan. Ia tidak berusaha terlihat bijak. Ia tidak berbicara tentang Tuhan. Dan mungkin justru karena itu, ia terasa paling manusia

Film ini berulang kali menegaskan bahwa jawaban Tuhan tidak selalu datang sesuai harapan. Sebuah kalimat yang indah, namun sayangnya disampaikan dengan cara yang terlalu pasti. Seolah-olah bahkan ketidakpastian pun telah ditentukan bentuknya.

Dalam Sujudku adalah contoh bagaimana niat baik bisa tersandung oleh keinginan untuk terlalu mengatur. Ia ingin menjadi cermin, namun terlalu sibuk mengarahkan sudut pantulnya. Ia ingin menjadi ruang refleksi, namun justru penuh dengan petunjuk.m

Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah keheningan setelah doa, melainkan gema dialog yang terus berulang. Dan kita pun pulang dari bioskop dengan satu pertanyaan yang mengganggu: apakah kita benar-benar tersentuh, atau hanya diarahkan untuk merasa demikian?

Tonton aja dah, kuy!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *