porosdemokrasi.com, Jakarta—
Anak muda Indonesia hari ini hidup dalam kontradiksi yang rapi: diminta berani bermimpi, tapi jangan lama-lama gagal.
Di tengah paradoks itulah SMARTFREN meluncurkan web series “Yang Penting Ada Cinta”, sebuah cerita tentang mereka yang belum sampai, namun sudah harus kuat.
Web series produksi MNC Pictures ini diperkenalkan melalui Press Screening dan Press Conference di Jakarta, dan akan tayang perdana mulai 19 Januari 2026, setiap Senin pukul 19.00 WIB di YouTube @smartfrenworld dan @mncpicturesofficial.
SMARTFREN menyebut ini sebagai upaya mendekatkan brand dengan generasi digital. Bahasa resminya: engagement emosional. Bahasa sehari-harinya: ikut nimbrung dalam hidup anak muda yang penuh ketidakpastian, sambil memastikan koneksi tetap stabil.
Cerita berputar di sebuah rumah kost—tempat di mana mimpi, kegagalan, dan sisa mi instan hidup berdampingan. Di sanalah Andre, Arif, dan Fajar bertahan hidup, masing-masing dengan cara yang tidak selalu benar, tapi terasa nyata.
Andre (Irzan Faig) adalah potret anak muda yang “cukup”, namun tak pernah benar-benar cukup. Ia bekerja, membayar tagihan, dan menyimpan mimpi sederhana: meneruskan usaha donat mendiang ibunya. Sebuah mimpi yang tidak mewah, tapi penuh makna—dan justru itu yang membuatnya sulit diwujudkan.
Masalah bertambah ketika Andre jatuh cinta pada Renata (Marsha Aruan), anak pemilik kost. Dalam banyak kisah Indonesia, cinta jarang berdiri sendiri. Ia harus berhadapan dengan restu, status, dan standar kesuksesan versi orang tua. Pak Roni (Deni Kumis) memilih solusi paling klasik: menjodohkan anaknya dengan pria mapan bernama Satrio (Joshua Otay). Mapan, tentu saja—kata sakti yang sering dianggap lebih penting dari perasaan.
Renata pun menjadi simbol anak muda yang diminta patuh sambil tetap terlihat bahagia.
Fajar (Fajar Sadboy) datang sebagai anomali. Mahasiswa yang tak kunjung lulus, bucin yang tak tahu malu, dan penyair yang salah sasaran. Ia menulis puisi untuk dosennya, Bu Sabrina (Woro Gia), seolah hidup ini belum cukup absurd. Namun justru di situlah Fajar terasa paling jujur: cinta tanpa strategi.
Sementara Arif (Arif Brata) sibuk merekam semua itu. Konten-konten polosnya tentang kehidupan anak kost perlahan viral dan masuk FYP. Di dunia digital, kejujuran ternyata bisa lebih laku daripada kepura-puraan—meski tetap bergantung pada algoritma.
Dengan genre komedi romantis dan pendekatan slice of life, “Yang Penting Ada Cinta” tak menawarkan jalan keluar. Ia hanya memperlihatkan realitas: bahwa gagal itu biasa, bingung itu wajar, dan sukses sering datang tanpa aba-aba—atau tidak datang sama sekali.
Web series ini seolah berbisik pada penontonnya: tak apa belum jadi apa-apa, asal masih punya cinta, teman, dan koneksi internet yang tidak tiba-tiba hilang.
Karena bagi banyak anak muda hari ini, hidup bukan soal menang atau kalah.Tapi soal bertahan—sambil tetap terlihat baik-baik saja.
Web series “Yang Penting Ada Cinta” tayang mulai 19 Januari 2026, setiap Senin pukul 19.00 WIB, eksklusif di YouTube. (Sulthan)



