Prabowo Rombak Tim Sukses, Genderang Perang Politik 2029 Bergema

Jakarta — Pengamat politik Agus Partono menilai fenomena politik nasional sepanjang 2026 menunjukkan bahwa pertarungan menuju Pemilu 2029 sesungguhnya sudah mulai berlangsung. Meski Pilpres masih jauh, menurut Agus, tarik-menarik kepentingan, konsolidasi elite, dan pembentukan gerbong kekuatan politik semakin terlihat.

Agus menyampaikan pandangannya kepada wartawan melalui sambungan telepon. Ia menilai sejumlah peristiwa politik yang terjadi dalam waktu berdekatan tidak bisa hanya dibaca secara parsial, tetapi perlu dilihat dalam konteks perebutan pengaruh menuju 2029.

“Kalau melihat suasana Pilpres, memang masih jauh. Tetapi tarik-menarik kekuasaan sudah semakin kuat. Kita melihat demonstrasi di DPR RI yang berujung ricuh dan menimbulkan korban jiwa. Pada saat yang hampir bersamaan, di Jawa Timur berlangsung Muktamar ke-35 NU dan di Lampung berlangsung Muktamar HMI. Ini menarik untuk dibaca sebagai fenomena politik,” ujar Agus.

Menurut Agus, berbagai momentum tersebut menunjukkan bahwa elite dan kelompok-kelompok politik mulai memperlihatkan kekuatan masing-masing.

“Ini bukan sekadar soal kebetulan. Ada proses konsolidasi. Mereka sedang menunjukkan siapa mereka, punya kekuatan apa, memiliki jaringan sampai di mana, dan gerbong politik mana yang sedang mereka bangun untuk menghadapi 2029,” tegasnya.

Agus menilai politik Indonesia saat ini memasuki fase “pemanasan panjang” menuju 2029. Pertarungan tidak hanya terjadi di arena partai politik, tetapi juga melalui organisasi masyarakat, kelompok kepemudaan, tokoh agama, jaringan ekonomi, media, serta pembentukan opini publik.

Prabowo Tetap Fokus pada Program, Tetapi Publik Mengawasi

Di sisi lain, Agus menyoroti pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang terus mendorong sejumlah program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dan program kampung nelayan.

Menurutnya, konsistensi Prabowo dalam menjalankan program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun legitimasi pemerintahan sekaligus memperkuat basis dukungan masyarakat.

“Prabowo terlihat bersikukuh dengan program-program andalannya. MBG, Koperasi Merah Putih, kampung nelayan dan berbagai program lainnya terus didorong. Tetapi di saat yang sama, publik juga sedang mengamati persoalan lain, terutama penegakan hukum dan bagaimana pemerintah merespons berbagai persoalan sosial-politik,” katanya.

Menurut Agus, keberhasilan program pemerintah akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kekuatan politik Prabowo menjelang 2029.

Agus: Isu Keretakan Prabowo-Jokowi “Bohong Besar”

Agus juga menyoroti rumor mengenai keretakan hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Ia justru menilai hubungan kedua tokoh tersebut masih menunjukkan adanya kesinambungan politik.

“Kalau ada yang mengatakan Prabowo sudah retak dengan Jokowi, menurut saya itu bohong besar. Kita harus melihat realitas politiknya, bukan hanya rumor yang beredar,” ujar Agus.

Menurutnya, salah satu indikator yang dapat diamati adalah komposisi pemerintahan Prabowo-Gibran yang masih melibatkan sejumlah tokoh yang telah memegang posisi strategis pada pemerintahan Jokowi.

Agus menyebut nama Airlangga Hartarto, Bahlil Lahadalia, Agus Gumiwang Kartasasmita, Rosan Roeslani, Tito Karnavian, Listyo Sigit Prabowo, Agus Subiyanto, dan TB Hasanuddin sebagai contoh tokoh yang menurutnya menunjukkan kesinambungan jaringan elite pemerintahan sebelumnya.

Selain itu, posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden juga dinilai Agus menjadi indikator penting bahwa hubungan politik antara Prabowo dan jaringan Jokowi masih sangat kuat.

“Gibran adalah wakil presiden. Artinya, secara politik, Prabowo tidak bisa begitu saja dipisahkan dari jejaring kekuasaan yang terbentuk pada era Jokowi. Karena itu saya melihat istilah ‘Geng Solo’ lebih sebagai gambaran jejaring politik dan kedekatan elite, bukan sebuah organisasi formal,” jelasnya.

Prabowo Dinilai Belum Bisa Lepas dari Bayang-Bayang Jokowi

Agus bahkan menilai Jokowi masih memiliki pengaruh politik yang signifikan terhadap pemerintahan saat ini.

Menurutnya, sebelum meninggalkan kekuasaan, Jokowi tentu telah memperhitungkan berbagai kemungkinan politik yang akan terjadi setelah pergantian pemerintahan.

“Jokowi bukan orang yang tidak menghitung. Sebelum meninggalkan jabatan, tentu ada kalkulasi politik. Karena itu, kalau kemudian ada yang menganggap Prabowo bisa begitu saja lepas dari seluruh jaringan politik Jokowi, saya kira terlalu sederhana membaca politik Indonesia,” katanya.

Namun Agus menegaskan bahwa keberadaan sejumlah tokoh era Jokowi di pemerintahan Prabowo tidak otomatis membuktikan adanya kontrol langsung Jokowi terhadap pemerintahan saat ini.

“Ini harus dibaca sebagai kesinambungan elite dan jaringan politik. Apakah itu berarti Jokowi mengendalikan Prabowo? Itu tentu membutuhkan bukti. Tetapi bahwa jejaringnya masih ada dan kuat, itu yang menurut saya sulit dibantah,” ujarnya.

Jokowi dan Prabowo Memiliki Gaya Politik Berbeda

Agus juga membandingkan karakter politik Jokowi dengan Prabowo. Menurutnya, Jokowi memiliki gaya komunikasi yang relatif lentur, sementara Prabowo lebih cepat dan tegas dalam mengambil keputusan.

“Jokowi punya pengalaman panjang membangun komunikasi dengan berbagai negara dan kelompok. Gayanya lebih luwes. Sementara Prabowo punya karakter yang lebih tegas dan cepat dalam mengambil keputusan. Keduanya memiliki gaya yang berbeda,” kata Agus.

Karena itu, Agus mengingatkan agar Prabowo tidak terlalu bergantung pada lingkaran terdekatnya.

“Presiden harus menempatkan orang-orang yang benar-benar berpengalaman, profesional dan memiliki kemampuan membaca situasi strategis. Jangan sampai keputusan negara terlalu dipengaruhi oleh lingkaran yang belum cukup matang menghadapi kompleksitas persoalan nasional dan internasional,” ujarnya.

Formula 2029 Mulai Disiapkan

Agus memperkirakan pertarungan Pilpres 2029 akan berlangsung jauh lebih keras. Ia melihat peluang Prabowo untuk kembali maju masih terbuka, terutama apabila program pemerintahannya mampu menghasilkan capaian yang dirasakan masyarakat.

“Formula 2029 sudah mulai disiapkan. Kemungkinan Prabowo mencalonkan kembali sangat terbuka. Kalau itu terjadi, pertarungannya akan semakin keras karena semua kekuatan akan mulai menghitung posisi,” katanya.

Namun menurut Agus, kekuatan politik 2029 tidak hanya berada di tangan Prabowo dan jaringan Jokowi.

Ia melihat masih ada kekuatan alternatif yang memiliki modal politik dan historis besar, terutama jejaring yang berkaitan dengan Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Megawati dan SBY masih menjadi kekuatan alternatif yang tidak bisa diabaikan. Keduanya mempunyai sejarah, jaringan, basis politik dan pengaruh yang panjang dalam politik Indonesia,” ujar Agus.

Selain itu, Agus menilai publik juga sedang menunggu siapa figur alternatif yang akan muncul di luar kekuatan utama tersebut.

“Nama-nama seperti Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar masih akan menjadi bagian dari perhitungan. Tetapi masyarakat tentu menunggu siapa figur alternatif yang benar-benar mampu menawarkan gagasan baru dan menjadi pilihan di luar pertarungan elite lama,” katanya.

Benturan Politik Harus Diantisipasi

Agus memperingatkan bahwa semakin cepat elite membangun konsolidasi, semakin besar pula potensi gesekan politik menjelang 2029.

“Kalau semua kekuatan mulai bergerak terlalu dini dan masing-masing menggunakan seluruh perangkat politiknya, benturan keras sangat mungkin terjadi. Karena itu yang harus dijaga adalah jangan sampai kompetisi politik berubah menjadi konflik sosial,” tegasnya.

Menurut Agus, Pemilu 2029 berpotensi menjadi salah satu pertarungan politik paling keras karena kekuatan-kekuatan besar akan bertemu dalam satu arena.

“Sekarang baru tahap menyusun gerbong. Mereka sedang menghitung kekuatan, membangun jaringan, menguji loyalitas dan mencari figur. Tahun 2029 nanti kita akan melihat siapa yang benar-benar memiliki kendaraan politik dan siapa yang hanya ramai di awal,” pungkas Agus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *