Porosdemokrasi – Desakan agar Presiden Prabowo Subianto segera melakukan perombakan atau reshuffle Kabinet Merah Putih semakin menguat. Langkah tegas ini dinilai mendesak demi menyelamatkan kinerja pemerintahan di tengah tekanan ekonomi yang kian berat.
Pengamat politik Citra Institute, Efriza, menegaskan bahwa Presiden tidak boleh ragu menindak menteri-menteri yang dianggap lamban, tidak responsif, atau gagal menerjemahkan visi pemerintah ke dalam kebijakan nyata.
“Dalam kondisi saat ini, Presiden Prabowo harus lebih tegas terhadap menteri-menterinya agar respons kebijakan bisa cepat dalam menghadapi persoalan ekonomi,” ujar Efriza kepada wartawan, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, dinamika geopolitik global yang tidak menentu menuntut kepemimpinan yang kuat dan kabinet yang solid. Tanpa langkah evaluasi yang berani, pemerintahan berisiko berjalan di tempat dan kehilangan momentum untuk memperbaiki kondisi ekonomi nasional.
“Jika diperlukan, reshuffle menjadi jalan keluar yang tepat, tentu dengan dasar evaluasi yang matang dari Presiden,” tegasnya.
Efriza juga menilai bahwa Presiden Prabowo membutuhkan ekosistem kabinet yang benar-benar sejalan dengan arah kebijakan pemerintah. Menteri yang tidak mampu beradaptasi dengan cepat terhadap tantangan ekonomi dinilai hanya akan menjadi beban bagi pemerintahan.
“Pemerintah tentu menginginkan kinerja menteri lebih optimal dalam mengatasi berbagai persoalan ekonomi,” pungkas Magister Ilmu Politik Universitas Nasional tersebut.
Desakan reshuffle ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi para menteri agar tidak terlena dengan jabatan. Publik menanti langkah nyata Presiden Prabowo untuk membersihkan kabinet dari figur-figur yang tidak kompeten, demi memastikan pemerintahan berjalan efektif dan berpihak pada kepentingan rakyat.



