Porosdemoktasi – Mudik seharusnya jadi perjalanan pulang yang hangat. Tapi bagi saya, Solihin, perjalanan ke kampung halaman di Lebak dan Pandeglang, Provinsi Banten, justru berubah jadi potret nyata kegagalan yang ditutup rapat oleh gemerlap narasi media,23 Maret 2026.
Kemacetan parah di jalur utama Lebak–Pandeglang memaksa saya mencari jalan alternatif. Saya memilih melintas dari Cibuah, Kabupaten Lebak, menuju Kadomas, Pandeglang. Rute yang seharusnya jadi solusi, malah membuka kenyataan yang lebih pahit: jalan rusak di hampir setiap titik. Dari Cibuah, Cileles, Desa Mogana, hingga Banjar, kondisi jalan jauh dari kata layak.
Lubang menganga, aspal terkelupas, dan jalur yang seperti dibiarkan membusuk pelan-pelan. Ini bukan sekadar gangguan perjalanan. Ini potret pengabaian.
Ironisnya, di saat yang sama, ruang media sosial dan layar kaca dipenuhi klaim pembangunan infrastruktur yang disebut-sebut sedang “gencar” dilakukan oleh Gubernur Banten, Andra Soni. Narasi yang disajikan rapi, optimistis, bahkan membanggakan.
Tapi di lapangan? Jauh panggang dari api.
Apa yang dipamerkan di media terasa seperti dunia paralel. Realitas di jalan-jalan Lebak dan Pandeglang justru menunjukkan sebaliknya: pembangunan yang tak menyentuh, atau mungkin tak pernah benar-benar ada.
Pertanyaannya sederhana: ini soal ketidaktahuan, atau pembiaran?
Masyarakat yang setiap hari melintas di jalur ini seolah dipaksa menerima keadaan. Diam. Bertahan. Seakan sudah terbiasa dengan kerusakan yang tak kunjung diperbaiki. Seolah suara mereka tak pernah sampai, atau memang sengaja tidak didengar.
Sementara itu, pejabat sibuk membangun citra. Jalan rusak ditutup dengan konten, kritik ditenggelamkan oleh pencitraan.
Lebak dan Pandeglang bukan wilayah kosong. Jalur ini padat penduduk, aktif secara ekonomi, dan vital bagi mobilitas warga. Tapi yang terlihat justru sebaliknya: pembiaran yang sistematis, dibungkus narasi pembangunan yang terasa makin jauh dari kenyataan.
Kalau media sosial jadi panggung, maka jalan rusak ini adalah panggung tandingan yang jujur. Tanpa filter. Tanpa editan. Dan sayangnya, yang jujur justru yang paling diabaikan.
