Porosdemokrasi – Cuplikan video dari kanal YouTube Sekretariat Presiden mendadak ramai diperbincangkan warganet. Bukan soal substansi perjanjian perdagangan Indonesia–Amerika Serikat, melainkan interaksi santai para pejabat usai konferensi pers di Istana, Kamis (19/2/2026).
Dalam rekaman itu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya tampak duduk berdampingan dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani serta Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Begitu Airlangga menutup sesi tanya jawab, suasana formal mendadak mencair. Sambil tertawa lebar ke arah Airlangga, Teddy berbisik cukup keras kepada Rosan, seolah melontarkan “protes” ringan.
“Ini ngundang saya cuma buat dipajang aja?” celetuk Teddy, disambut senyum para pejabat di meja konferensi.
Momen singkat itu terekam sesaat sebelum siaran langsung resmi dihentikan. Potongan video tersebut kemudian beredar luas di media sosial dan memicu beragam reaksi mulai dari yang menganggapnya sekadar candaan internal, hingga yang menilai menunjukkan kedekatan personal di lingkar kabinet.
Di tengah padatnya agenda diplomatik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, interaksi spontan ini menghadirkan sisi humanis para pejabat yang jarang tertangkap kamera resmi.
Di luar konteks humor, momen tersebut juga memperlihatkan dinamika komunikasi di ruang kekuasaan: posisi duduk, siapa bicara, dan siapa sekadar hadir semuanya punya makna simbolik dalam politik visual.
Ketika candaan soal “dipajang” muncul dari seorang Seskab, publik menangkapnya sebagai isyarat ringan tentang hierarki dan peran di meja pengambilan keputusan.



