porosdemokrasi, Jakarta — Di bulan ketika langit seolah lebih dekat dan doa-doa berlayar tanpa jarak, Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an menghadirkan sebuah ikhtiar yang sunyi namun bermakna: Tadarus Al-Qur’an Inklusi (TAQI).
Ramadan 1447 H tidak hanya datang dengan denting azan dan desir sajadah. Ia juga hadir dengan sentuhan titik-titik timbul yang dibaca oleh jemari, dan dengan bahasa gerak yang menari dalam sunyi. Di ruang-ruang digital yang terhubung lewat layar, ayat-ayat suci tak lagi hanya terdengar—ia diraba, ia dilihat dengan hati, ia diterjemahkan oleh gerak yang penuh makna.
LPMQ menyiapkan Mushaf Al-Qur’an Braille—di mana jari-jari menjadi mata, dan keheningan menjadi cahaya. Setiap titik timbul adalah lentera kecil, menerangi lorong batin para penyandang disabilitas netra. Dalam rabaan yang perlahan, firman Tuhan tumbuh seperti embun yang jatuh tanpa suara, tetapi menghidupkan.
Di sisi lain, Mushaf Al-Qur’an Isyarat menghadirkan ayat dalam bahasa tangan. Gerak yang teratur, sistematis, dan terstandar itu menjelma jembatan bagi saudara-saudara tuli dan bisu. Ayat-ayat tidak lagi sekadar dilafalkan; ia bergerak, ia bergetar, ia menjelma makna dalam sunyi yang fasih.
Program TAQI yang digelar secara daring dari 23 Februari hingga 12 Maret 2026 itu bukan sekadar agenda Ramadan. Ia adalah pernyataan bahwa wahyu tak memilih siapa yang boleh mendekat. Bahwa hudan lin-naas—petunjuk bagi manusia—benar-benar mencakup semua, tanpa kecuali.
Ramadan kali ini, Al-Qur’an tidak hanya dibaca oleh suara. Ia dibaca oleh sentuhan dan diterjemahkan oleh gerak. Ia hadir bukan hanya di telinga yang mendengar, tetapi di hati yang merindukan.
Dan mungkin, di sanalah makna inklusi menemukan wajahnya yang paling jernih: ketika keterbatasan tak lagi menjadi sekat, melainkan jalan lain menuju cahaya. (Sulthan)


