porosdemokrasi, Jakarta — Malam di jantung ibu kota berpendar lebih hangat dari biasanya. Lampion-lampion menggantung seperti doa yang menyala, sementara angin Jakarta berembus pelan membawa sisa hujan dan aroma harapan.
Di pelataran Bundaran Hotel Indonesia, ribuan orang berhimpun dalam satu tarikan napas yang sama: merayakan kebahagiaan.
Di panggung terbuka bertajuk Harmoni Imlek Nusantara, nama Icha Yang kembali menggema. Penyanyi Mandarin yang bersinar sejak era 1990-an hingga awal 2000-an itu tampil membawakan tujuh lagu, merajut kenangan lintas generasi. Suaranya mengalun jernih, menembus gedung-gedung tinggi yang berdiri sebagai saksi perjalanan kota.
Sejak nada pertama, penonton larut dalam irama. Ada mereka yang tumbuh bersama lagu-lagunya, ada pula yang baru mengenalnya malam itu. Anak-anak muda berdiri berdampingan dengan orang tua; pasangan muda tersenyum sambil merekam momen; pejalan kaki yang semula hanya melintas mendadak berhenti, terpikat oleh gelombang musik yang menghangatkan udara.
Icha tak hanya menyanyikan lagu-lagu berbahasa Mandarin. Ia menyelipkan tembang-tembang yang lebih akrab di telinga khalayak luas, agar kebahagiaan tak mengenal sekat bahasa. Melayu, misalnya.
“Tujuannya supaya teman-teman yang tidak merayakan Imlek juga bisa ikut merasakan suasana bahagia. Jadi setengah lagu yang dibawakan bukan lagu Mandarin, supaya mereka juga bisa ikut bernyanyi bersama,” ujarnya di sela acara, dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

Di ruang terbuka, katanya, ada rasa yang berbeda—lebih jujur, lebih membumi.
“Kalau di indoor biasanya komunitas tertentu saja. Tapi di outdoor semua datang—bapak, ibu, anak muda—bercampur jadi satu. Lihat penonton yang antusias rasanya kangen sekali,” tuturnya.
Malam itu, musik bukan sekadar hiburan. Ia menjelma jembatan. Di antara denting nada dan tepuk tangan yang bergemuruh, perayaan Imlek menemukan wajahnya yang paling indah: kebersamaan. Bahwa Tahun Baru bukan hanya milik satu etnis, satu bahasa, atau satu tradisi—melainkan milik semua yang ingin berbagi sukacita.
Perayaan Imlek di Jakarta menjadi cermin keindahan Indonesia yang majemuk. Di negeri yang dibangun dari ribuan pulau, ratusan bahasa, dan beragam keyakinan, kebhinekaan bukan sekadar semboyan, melainkan denyut nadi yang hidup. Imlek hadir sebagai bagian dari warna-warni itu—mengisi kanvas Nusantara dengan merah keberuntungan dan emas harapan.
Icha pun menutup malam dengan doa sederhana yang terasa begitu manusiawi.
“Harapannya di tahun ini semoga kita semua panjang umur, sehat, dan rezekinya dilancarkan. Yang penting penonton happy, saya juga happy,” katanya.
Di bawah langit Bundaran HI, lampion-lampion tetap menyala, seolah menegaskan bahwa harmoni bukanlah ilusi. Ia nyata—dalam tawa yang berbaur, dalam lagu yang dinyanyikan bersama, dan dalam langkah-langkah yang pulang membawa sepotong bahagia.
Harmoni Imlek Nusantara bukan sekadar perayaan. Ia adalah pengingat bahwa Indonesia, dengan segala perbedaannya, selalu punya ruang untuk merayakan satu sama lain. (Sulthan)



