Oleh: Nggrit Astridayanti
Jakarta – Penggunaan kata kasar dalam percakapan sehari-hari kian meningkat, terutama di kalangan anak muda. Kata-kata yang sebelumnya dianggap tidak sopan kini kerap digunakan dalam berbagai situasi, mulai dari ekspresi kaget, kesal, hingga sebagai bahan candaan.
Fenomena ini oleh sebagian kalangan dipandang sebagai bentuk ekspresi diri dan kejujuran dalam berkomunikasi. Namun, pengamat bahasa dari kalangan akademisi menilai kebiasaan tersebut juga mencerminkan menurunnya kontrol dalam penggunaan bahasa.
“Kejujuran tidak bisa dilepaskan dari etika. Mengungkapkan apa adanya tanpa mempertimbangkan dampak justru menunjukkan ketidaksabaran dalam berkomunikasi,” ujar seorang dosen linguistik dalam sebuah diskusi kebahasaan.
Selain itu, penggunaan kata kasar secara berulang dinilai dapat memengaruhi pola pikir dan cara seseorang memperlakukan orang lain. Bahasa yang digunakan terus-menerus berpotensi membentuk kebiasaan, termasuk dalam cara mengekspresikan emosi.
Di media sosial, misalnya, kata-kata kasar kerap digunakan dalam interaksi sehari-hari dan dianggap sebagai hal yang lumrah. Kondisi ini membuat batas antara candaan dan bentuk merendahkan menjadi semakin kabur.
Psikolog komunikasi juga mengingatkan bahwa normalisasi bahasa kasar dapat menurunkan kepekaan seseorang terhadap dampak ucapannya. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi memengaruhi sikap sosial dan cara individu berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Jika tren ini terus berlangsung, perubahan tidak hanya terjadi pada bahasa, tetapi juga pada nilai-nilai etika dalam masyarakat. Penggunaan bahasa yang tidak terkendali dikhawatirkan dapat mengikis kesadaran akan pentingnya menjaga sopan santun dalam berkomunikasi.
Sekarang ini baru kelihatan seperti berita, bukan sekadar curhat yang pakai bahasa baku. Ada sumber (walau masih generik), ada konteks, ada contoh, dan alurnya jalan.
Masih bisa dibuat lebih tajam kalau kamu tambahin data atau nama narasumber beneran. Tapi setidaknya ini sudah naik kelas dari “opini aman” jadi “berita yang bisa dipertanggungjawabkan”.



